BADAN kurus dan perut buncit adalah gejala awal balita terserang infeksi cacing. Mengajarkan hidup higienis merupakan cara menghindarkan balita dari cacing.
Setiap orangtua pastilah bingung bercampur sedih jika melihat buah hatinya memiliki selera makan yang tinggi, tetapi berat badannya tidak pernah bertambah. Malah si kecil semakin kurus dari hari ke hari. Selain itu, perutnya juga semakin membuncit. Sebenarnya, infeksi cacing tidak selalu menimpa anak-anak.
Siapa pun bisa terinfeksi bila pola hidupnya kurang higienis. Selain itu, tidak banyak yang mengira bahwa 90 persen anak Indonesia mengidap cacingan. Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga intelligence quotient (IQ) rendah adalah beberapa akibatnya.
Pada balita, gejala cacingan biasanya lebih cepat terlihat. Selain kurus dan perut buncit, balita yang terserang infeksi cacing, biasanya juga akan mengalami gangguan lambung dan usus. Gangguan itu bisa terlihat seperti mulasmulas, kejang-kejang, dan diare berkala. Jika dilakukan pemeriksaan rektal maka akan ditemukan adanya gumpalan cacing yang telah bersarang di dalam tubuh si kecil.
Pasukan cacing itulah yang membuat kurus siapa pun yang diserangnya. Karena cacing yang bersarang dalam tubuh akan mengonsumsi zat gizi. Dalam penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan Indonesia (Depkes), ditemukan bahwa di dalam saluran perut setiap 20 ekor cacing dewasa bisa menyedot 2,8 gram karbohidrat dan 0,7 gram protein dalam sehari.
Dengan demikian, infeksi berat yang disebabkan beratus-ratus cacing akan mengambil sebagian besar makanan di saluran pencernaan. Karena ulah cacing yang menginfeksi tubuh balita, penderita tidak bisa hidup nyaman.
"Seperti apa pun gizi yang diberikan pada balita, jika gejala cacingan tidak segera ditangani, balita akan tetap kurus, berperut buncit bahkan tidak bersemangat ketika bermain dengan teman-temannya," kata Dr Dwi Admadja Sp A DPH dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Dia menyebutkan, cacing yang menginfeksi balita bisa teraba lewat dinding perut.Jenis yang sering menginfeksi balita atau orang dewasa sekalipun di antaranya adalah cacing gelang (ascaris lumbricoides), cacing kremi (axyuris vermicularis), cacing pita (taenia solium), dan cacing tambang (ancylostoma duodenale).
Penyusupan parasit berupa cacing ini, menurut Dwi, diawali dengan masuknya telur yang mengandung embrio melalui makanan. Lalu menetas menjadi cacing. Dalam kediaman barunya, mereka bertelur. Sebagian telur akan melanglang terbuang bersama tinja. "Bila balita yang terserang infeksi cacing buang air besar sembarangan, maka telur cacing bisa menyebar bersama angin atau ke makanan melalui lalat," kata dia.
Untuk memerangi cacing yang hidup di dalam perut, biasanya digunakan bahan antelmentik (anticacing). Ada dua golongan bahan pelawan cacing itu, yakni vermifuga (obat-obat yang melumpuhkan cacing dalam usus dan cacing yang dikeluarkan dalam keadaan hidup) dan vermicida (obat-obat yang dapat mematikan cacing dalam tubuh). Obat-obat untuk membasmi cacing tadi cukup banyak dijual di pasaran.
Ditambahkan Dwi, bila dirasa terlalu mahal, masih ada alternatif obat lain yang bisa dipilih, yakni dengan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat. Saat ini telah diketahui banyak tumbuhan obat yang pernah dan masih digunakan secara tradisional sebagai obat anticacing di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Seluruhnya diketahui ada 105 tanaman, di antaranya tumbuh di Indonesia. Umumnya, tanaman itu digunakan perasannya.
Untuk mendukung data empiris, uji khasiat secara ilmiah pun dilakukan untuk membuktikan khasiatnya. Dari berbagai pengujian yang telah dilakukan perguruan tinggi dan lembaga penelitian, ada beberapa tanaman obat yang cukup banyak mendapat perhatian. Empat di antaranya adalah temu giring, temu ireng, pepaya, dan pare.
Senada dengan Dr Dwi Admadja, ahli gizi Dr Bambang Cahyo Adi mengaku yang paling penting ketika balita terserang infeksi cacing adalah segera memberantasnya. Karena infeksi cacing akan berbahaya bagi tubuh balita jika dibiarkan berlarut-larut. "Seharusnya orangtua lebih peduli pada kesehatan anaknya. Bahkan, banyak orangtua yang malu jika tahu bahwa anak mereka menderita cacingan," kata dia.
Dr Bambang menyebutkan, banyak orangtua membawa anak-anak mereka ke ahli gizi untuk berkonsultasi tentang mengapa anak mereka kurus dan tidak gemuk-gemuk. Padahal selera makan mereka sangat tinggi. Padahal, kasus yang banyak dihadapi adalah balita mereka terserang infeksi cacing. "Kalau cacing belum dibasmi, diberi vitamin apa pun anak akan terus kurus. Langkah praktis adalah membasmi cacing. Setelah itu, baru berkonsultasi dengan ahli gizi," sebut dia.
Meski sering kali dianggap angin lalu, Dr Bambang menyarankan penyakit akibat diserapnya makanan cacing di dalam tubuh, sebaiknya tidak diremehkan karena dampaknya bagi si penderita ternyata tidak kalah berbahaya dibandingkan dengan penyakit lain.
(sindo//tty)
Sumber : okezone
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF
| Keranjang Belanja Anda Masih Kosong |